Senin, 09 Januari 2012

berkah bagi dunia..

apa yang kuinginkan darimu,nak?
setelah bertahun-tahun menjadi orang tua,setahun yang lalu,saya tiba di pertanyaan ini.
sebelumnya,saya ingin sekali anak saya (yang saat itu hanya berjumlah 3 orang) untuk bisa mengikuti alur yang saya sediakan.untuk kebaikan mereka sendiri.
'diam,ikuti.diam,kerjakan', itu komando saya pada anak-anak.
'ummi tahu apa yang terbaik untuk kalian',  itu pembelaan saya.
saya memuji.saya memarahi.
bila bersikap baik,mereka akan mendapatkan hadiah.bila membuat kesalahan,mereka akan mendapat hukuman.semua berjalan lancar,kecuali anak-anak yang tantrum.
mereka gemar memukul,cepat menangis,mudah menyerah,tidak punya inisiatif dan menunggu perintah untuk melakukan sesuatu.
saya harus menyuruh.saya harus mengomel.dan saya harus mengingatkan berulang-ulang-ulang.begitu terus berhari-hari...
saya melerai.saya memisahkan.saya mengambil apa yang diperebutkan.begitu terus berhari-hari...
dalam perjalanan bis yang panjang,sambil berdiri,saya merenung.apa yang sedang saya lakukan ini?
anak saya jelas tidak bahagia.anak saya jelas tidak suka.tapi mengapa saya tidak mau tahu? mengapa saya menutup mata dan mengunci hati saya, dengan pembenaran :
" ini untuk kebaikan kalian juga dan suatu saat kalian akan berterima kasih kepada ummi atas tindakan ummi ini"
ah,sesungguhnya saya menyelamatkan muka saya sendiri. saya melakukan banyak hal untuk kemenangan ego saya sendiri...
mungkin suatu saat anak saya menjadi bankir,dokter,dosen,peneliti,fotografer,ulama,apapun...
mungkin suatu saat mereka akan jadi ternama,kaya,disanjung...
tapi saya tahu, mereka mungkin akan tidak bahagia.mereka bukan dirinya.
hidup di atas arahan.
bergerak dikawal oleh sekian banyak wejangan.
memilih apa yang telah dipilihkan.
karena mereka tidak akan menjadi dirinya sendiri.
mereka akan jadi sesuatu yang saya -IBUNYA- inginkan.

saya terhempas ke satu titik pertanyaan :"apa yang kuinginkan darimu,nak?"
dan saya memejamkan mata.selama berhari-hari saya berada di atas bis,dengan mata terpejam,berusaha memvisikan bagaimana kehidupan anak-anak saya kelak.
ternyata cuma satu yang saya inginkan untuk mereka: kehidupan yang berkah.
"nah,sekarang dengarkan ummi : apapun itu,nak,jadilah!
tapi berjanjilah pada ummi,kalian akan menjadi berkah bagi dunia"

ibu..

No ordinary work done by a man is either as hard or as responsible as the work of a woman who is bringing up a family of small children; for upon her time and strength demands are made not only every hour of the day but often every hour of the night.
- Theodore Roosevelt

Senin, 02 Januari 2012

belajar

'mengapa aku harus belajar,mi..'
saya sudah sering mendengar pertanyaan ini dari celoteh anak-anak saya sendiri. dengan bertambahnya umur mereka, satu-persatu mulai menganalisa kehidupannya, dan menemukan kenyataan bahwa orangtuanya menghendaki mereka untuk tak pernah berhenti belajar.
tapi di beberapa hari yang sesungguhnya cerah, saya mendapati orang-orang yang mempertanyakan
"sudah tua kok masih belajar, bu?"
"siapa yang nyuruh sih, bu, kok ngerepotin diri sendiri..kemana-mana bawa buku?"
lha...memangnya belajar dan baca buku itu hak dan kewajiban anak-anak sajakah ?
rasa heran dan tidakhabispikir itu membuat hari menjadi agak mendung (halahhh..)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
sejak remaja, saya pelan-pelan menyadari bahwa ada banyak hal yang seharusnya kita ketahui. makin tua, semua persoalan hidup makin membayang dekat, dan belajar-tentang apapun itu-mulai terasa sebagai tuntutan. suka tidak suka, mau tidak mau. "aku harus tahu".
saat kecil, apa yang dipelajari hanyalah apa yang ditugaskan di sekolah. jadi saya belajar, apa itu hukum phytagoras, beda monokotil dan dikotil, bagaimana cara berwudhu yang benar, hukum Hess dan laln-lain. hukumnya jelas : bila belajar dengan baik, nanti hasilnya adalah bisa menjawab soal saat ujian, bisa naik kelas, lulus UMPTN and so on.
masuk kuliah, pelajaran bertambah. bukan hanya tentang apa yang harus kau ketahui untuk menjadi seorang dokter, tapi juga mencakup bagaimana menyelesaikan cucianmu yang sudah menumpuk 2 hari setelah ditinggal jaga malam. plus, bagaimana bisa tetap makan enak di penghujung bulan, saat kiriman uang sudah menipis.
begitu menikah, jreeng..materi pengayaan pun bermunculan. bagaimana masak yang enak, berkomunikasi efektif dengan suami, manajemen pembantu, mengatur waktu bermain dengan anak saat tubuh sudah sangat kelelahan....
begitu punya anak, dunia "menyeramkan" yang sesungguhnya pun terbuka lebar. ada manusia-manusia yang menunggu untuk diurus baik-baik, diarahkan, diajarkan, dididik.. dan dijaga 24 jam sehari 7 hari seminggu..
saat-saat "seram" mulai bermunculan..
anak-anak bertanya, dan saya tidak tahu jawabannya.
anak-anak ingin melakukan sesuatu, yang saya sendiri bahkan tidak pernah berpikir untuk melakukannya.
ada banyak hal baik untuk anak-anak, katanya,..dan saya tidak tahu harus pilih yang mana.
ada banyak predator yang siap menunggu anak-anak saya, bagaimana saya harus melindungi mereka.
semua harga (apapun-biaya sekolah, kentang, emas, ongkos angkot, LPG...) berlomba-lomba naik melambung, meninggalkan saya yang terus memikirkan cara agar anak-anak tetap bisa makan dengan gizi lengkap-seimbang, main enak dan tidur nyenyak.
ada banyak sekali hal yang saya belum tahu..
saya tanya orang. ikut milis, buka buku, baca majalah-koran, bikin akun fesbuk, duduk di pengajian-seminar-apapun lah yang ada nara sumbernya.
akhirnya saya paham.
bahwa belajar dan terus belajar adalah cara untuk bertahan hidup.
belajar adalah kebutuhan. belajar itu sama dengan bernafas.
belajar adalah hidup itu sendiri.
di titik mana saya nanti berhenti belajar, di titik itulah saya berhenti hidup.
saya belajar dari orang lain, dari buku, dari koran, dari internet...dari mana saja.
seperti yang dikatakan salah dua inspirator saya, mas aar dan mbak lala : belajar di mana saja, kapan saja, dan dari mana saja..(salah kutip nggak,ya ?)
belajar adalah keniscayaan.
dokter yang berhenti belajar, akan tersingkir.
guru yang berhenti belajar, akan ditertawakan.
pemimpin yang berhenti belajar, akan menyengsarakan.
orang tua yang berhenti belajar, akan menjerumuskan.
belajar itu penting.
karena itulah para pembelajar dimuliakan Tuhan.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"mengapa aku harus belajar terus, mi?" fatih bertanya sambil membawa buku matematikanya tadi malam. dia sudah selesai mengerjakan 20 soal di bab 1. bab itu bahkan baru akan dibahas besok pagi oleh gurunya. saya tahu,  dia bertanya hanya karena butuh penguat tekad.
saya menutup jurnal yang sedang saya baca.
malam sudah larut.
"belajar adalah jalan hidup orang-orang mulia, nak..di jaman dahulu ada seorang..."
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

penutup

menutup malam dengan :
-menerima amplop tertutup berisi gambar pelangi dari fatih (alasannya,"buat aku,ummi itu pelangi")
-menerima buku 'dot-to-dot' AZ yang telah selesai dikerjakan anis (jadi bengong dan bertanya dalam hati : bukankah buku ini baru dibeli kemaren?)
-menerima mobil sedan mainan yang pintu kirinya patah karena dibuka paksa oleh kevin (ternyata di dalamnya ada batere AA..lo?ini kan bukan mobil berbatere?harganya aja 4000,gitu lo). tapi yang punya mobil yakin sekali, bahwa dengan adanya batere AA di kursi penumpang itu, mobilnya sekarang jadi lebih kencang..
anak-anak...selalu punya cara untuk bikin saya terpesona...

nasehat untuk diriku sendiri :

CHILDREN LEARN WHAT THEY LIVE
Dorothy Law Nolte
If a child lives with criticism,
he learns to condemn.
If a child lives with hostility,
he learns to fight.
If a child lives with fear,
he learns to be apprehensive.
If a child lives with pity,
he learns to feel sorry for himself.
If a child lives with ridicule,
he learns to be shy.
If a child lives with jealousy,
he learns what envy is.
If a child lives with shame,
he learns to feel guilty.
If a child lives with encouragement,
he learns to be confident.
If a child lives with tolerance,
he learns to be patient.
If a child lives with praise,
he learns to be appreciative.
If a child lives with acceptance,
he learns to love.
If a child lives with approval,
he learns to like himself.
If a child lives with recognition,
he learns that it is good to have a goal.
If a child lives with sharing,
he learns about generosity.
If a child lives with honesty and fairness,
he learns what truth and justice are.
If a child lives with security,
he learns to have faith in himself and in those about him.
If a child lives with friendliness,
he learns that the world is a nice place in which to live.
If you live with serenity,
your child will live with peace of mind.
With what is your child living?
Source: Canfield, J. & Wells, H. C. (1976). 100 ways to enhance self-concept in the classroom: A handbook for teachers and patents. Boston: Allyn & Bacon.